Selasa, 25 Maret 2014

Manusia dan Keindahan

Keindahan
   Kata keindahan berasal dari suku kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, (meskipun tidak semua hasil seni indah, pemandangan alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga di lereng gunung), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh), rumah (halaman, tanaman, perabot rumah tangga dan sebagainya), suara, warna dan sebagainya. Keindahan adalah identik dengan kebenaran.
   Keindahan bersifat universal, artinya keindahan yang tak terikat oleh selera perorangan, waktu, tempat atau daerah tertentu, bersifat menyeluruh. Segala sesuatu yang mempunyai sifat indah antara lain segala hasil seni, pemandangan alam, manusia dengan segala anggota tubuhnya dan lain sebagainya. Dalam arti luas meliputi keindahan hasil seni, alam, moral dan intelektual. Dan dalam arti estetik keindahan mencakup pengalaman estetik seseorang dalam hubunganya dengan hubunganya dengan segala sesuatu yang diserapnya. Sedangkan dalam arti terbatas keindahan sangat berkaitan dengan keindahan bentuk dan warna.
   Sesungguhnya keindahan itu memang merupakan suatu persoalan filsafati yang jawabannya beraneka ragam. Salah satu jawaban mencari ciri-ciri umum yang ada pada semua benda yang dianggap indah dan kemudian menyamakan ciri-ciri atau kwalita hakiki itu dengan pengertian keindahan.

Nilai Estetik
   Nilai yang berhubungan dengan segaa sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik. Nilai adalah suatu relaitas psikologis yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada bendanya itu sendiri. Nilai itu oleh orang dipercaya terdapa pada sesuatu benda sampai terbukti ketakbenarannya., estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.

Kontemplasi dan Ekstansi
   Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah yang merupakan suatu proses bermeditasi merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan atau niat suatu hasil penciptaan.
Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah.
   Apabila kontemplasi dan ekstansi itu dihubungkan dengan kreativitas, maka kontemplasi itu faktor pendorong untuk menciptakan keindahan, sedangkan ekstansi merupakan faktor pendorong untuk merasakan, menikmati keindahan. Karena derajat atau tingkat kontemplasi dan ekstansi itu berbeda-beda antara setiap manusia, maka tanggapan terhadap keindahan karya seni juga berbeda-beda. Manusia menciptakan berbagai macam peralatan untuk memecahkan rahasia gejala alami tersebut.

B. Renungan
   Renungan berasal dari kata renung; artinya diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung. Dalam merenung untuk menciptakan seni ada beberapa teori antara lain : teori pengungkapan, teori metafisik dan teori psikologis.
Teori Pengungkapan
   Dalil teori ini ialah bahwa “arts is an expresition of human feeling” ( seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia) Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan karya seni. Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal ialah filsuf Italia Benedeto Croce (1886-1952) Beliau antara lain menyatakan bahwa “Seni adalah pengungkapan pesan-pesan) expression adalah sama dengan intuition, dan intuisi adalah pegnetahuan intuitif yang diperoleh melalui penghayatan tentagn hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images).”
   Seorang tokoh lainnya adalah Leo Tolstoi dia menegaskan bahwa kegiatan seni aalah memunculkan dalam diri sendiri suatu perasaan yagn seseorang telah mengalaminya dan setelah memunculkan itu kemudian dengan perantaraan berbagai gerak, garis, warna, suara dan bentuk yang diungkapkan dalam kata-kata memindahkan perasaan itu sehingga orang-orang mengalami perasaan yang sama.
Teori Metafisik
   Teori seni yang bercotak metafisik merupakan salah satu contoh teori yang tertua, yakni berasal dari Plato yang karya-karyanya untuk sebagian membahas estetik filsafat, konsepsi keindahan dari teori seni. Mengenai sumber seni Plato mengungkapkan suatu teori peniruan (imitation teori). Ini sesuai dengan metafisika Plato yang mendalikan adanya dunia ide pada tarat yang tertinggi sebgai realita Ilahi. Pada taraf yang lebih rendah terdapat realita duniawi ini yang merupakan cerminan semu dan mirip realita ilahi. Dan karyu seni yang dibuat manusia adalah merupakan mimemis (tiruan) dari ralita duniawi.
Teori Psikologis
   Para ahli estetik dalam abad modern menelaah teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa dikemukakan bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seseorang seniman. Sedang karya seni tiu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang wujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu. Teori lain lagi yaitu teori permainan yang dikembangkan oleh Fredrick Schiller (1757 -1805) dan Herbert Spencer ( 1820 – 1903 ) menurut Schiller, asal seni adalah dorongan batin untuk bermain-main (play impulse) yang ada dalam diri seseorang. Seni merupakan semacam permainan menyeimbangkan segenap kemampuan mental manusia berhubungan dengan adanya kelebihan energi yang harus dikeluarkan. Dalam teori penandaan (signification theory) memandang seni sebagai lambing atau tanda dari perasaan manusia.
contoh: Melakukan renungan malam dibulan Ramadhan, dengan tujuan untuk memohon ampunan dari segala dosa-dosa yang telah dilakukan baik yang disengaja maupun tidak. Mengingat - ingat segala perbuatan baik yang baik atau pun buruk kapada orang lain.

C. Keserasian
   Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan,ukuran dan seimbang.
   Dalam pengertian perpaduan misalnya, orang berpakaian harus dipadukan warnanya bagian atas dengan bagian bawah. Atau disesuaikan dengan kulitnya. Apabila cara memadu itu kurang cocok, maka akan merusak pemandangan. Sebaliknya, bila serasi benar akan membuat orang puas karenanya. Atau orang yang berkulit hitam kurang pantas bila memakau baju warna hijau, karena warna itu justru menggelapkan kulitnya.
   Pertentangan pun menghasilkan keserasian. Misalnya dalam duma musik, pada hakekatnya irama yang mengalun itu merupakan pertentangan suara tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut. Karena itu dalam keindahan ini, sebagian ahli pikir menjelaskan, bahwa keindahan pada dasamya adalah sejumlah kualitas / pokok tertentu yang terdapat pada sesuatu hal. Kualita yang paling sering disebut adalah kesatuan (unity). keselarasan (harmony), kesetangkupan (symetry), keseimbangan (balance), dan keterbalikan (contrast). Selanjutnua dalam hal keindahan itu dikatakan tersusun dari berbagai keselarasan dan keterbalikan dari garis, warna, bentuk, nada dan kata-kata. Tetapi ada pula yangberpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan yang serasi dalarn suatu benda dan diantara benda itu dengan si pengarnat.
   Filsuf Ingris Herbert Read merumuskan definisi, bahwa keindahan adalah kesatuan dan hubungan-hubungan bentuk yang terdapat di antara pencerapan-pencerapan inderawi kita (beauti is unity of formal relations among our sence-perception). Pendapat lain menganggap pengaiaman estetik suatu keselaras dinarnik dari perenungan yang menyenangkan. Dalarn keselarasan itu seseorang memiliki perasaan-perasaan seimbang dan tenang, mencapai cita rasa akan sesuatu yang terakhirdan rasa hidup sesaat di tempat-ternpat kesempumaan yang dengan senang hati ingin diperpanjangnya.
Teori Obyektif dan Teori Subyektif

   Teori obyektif berpendapat bahwa, keindahan atau ciri-ciri yang menciptakan nilai estetik adalah sifat (kualita) yang memang telah melekat pada bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang-orang yang mengamatinya.   Teori subyektif menyatakan bahwa, ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam diri seseorang yang mengamati suatu benda.   Pendukung teori obyektif adalah Plato, Hegel dan Bernard Bocanquat, dan pendukung teori subyektif adalah Henry Home, Earlof Shaffesbury, dan Edmund Burke.
Teori Perimbangan

   Teori pengimbangan tentang keindahan dari bangsa Yunanai Kuno dulu dipahami dalam arti terbatas, yakni secara kualitatif yang diungkapkan dengan angka-angka. Keindahan dianggap sebagai kualita dari benda benda yang disusun (mempunyai bagian-bagian). Hubungan dari bagian-bagian yang menciptakan keindahan dapat dinyatakan sebagai perimbangan atau perbandingan angka-angka.   Teori ini hanya berlaku dari abad ke-5 sebelum Masehi sampai abad ke-17 Masehi selama 22 abad. Teori tersebut runtuh karena desakan dari filsafat empirisme dan aliran-aliran termasuk dalam seni. Keindahan hanya ada pada pikiran orang yang menerangkannya dan setiap pikiran melihat keindahan yang berbeda-beda.   Dalam hubungannya dengan keindahan, keserasian memiliki makna perpaduan antara berbagai unsur yang menjadi satu sehingga menimbulkan satu bentuk keindahan. Sehingga keserasian memiliki hubungan yang erat kaintannya dengan keindahan, tanpa adanya keserasian, keindahan tidak akan terwujud dalam sebuah karya atau benda yang diciptakan manusia dalam tujuan estetika.   Keserasian sangat berhubungan dengan keindahan, sesuatu yang serasi akan tampak indah. Dalam keselarasan seseorang memiliki perasaan seimbang, dan mempunyai cita rasa akan sesuatu yang berakhir dan merasa hidup sesaat ditengah-tengah kesempurnaan yang menyenangkan hati.

contoh: Keserasian seseorang dengan benda yang disukainnya, atau besarnya rasa ketertarikan pada suatu benda yang dianggapnya menarik. Adanya hubungan yang istimewa, serta rasa saling cocok seseorang kepada pasangannya, sahabatnya, teman, dan benda yang memiliki arti spesial baginya.


Referensi:

Widagdho, Djoko, Drs, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008)
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/03/pengertian-keindahan/http://www.docstoc.com/docs/13177111/estetika-dan-keindahanhttp://ubayotaku.blogspot.com/2012/04/pengertian-cinta-kasih.htmlhttp://ubayotaku.blogspot.com/2012/04/pengertian-keserasian.html

Senin, 24 Maret 2014

Manusia dan Cinta Kasih

1. Cinta Kasih
   Cinta : perasaan yang lahir dari hati seseorang , timbul dengan sendirinya, tidak melihat waktu dan usia, suatu asa untuk ingin menyayangi dan memiliki, seperti perasaan cinta tuhan kepada umat nya yang bertaqwa. cinta yang tulus akan menimbulkan nilai-nilai kejiwaan yang selalu tulus dan berserah.
   Definisi Cinta menurut W. J. S. Poerwadarminta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada), ataupun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan definisi kasih menurut beliau adalah perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Jadi kalau disimpulkan cinta kasih adalah perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.
   Cinta kasih bersumber pada ungkapan perasaan yang didukung oleh unsur karsa, yang dapat berupa tingkah laku dan pertimbangan dengan akal yang menimbulkan tanggung jawab. Dalam cinta kasih tersimpul pula rasa kasih sayang dan kemesraan. Belas kasihan dan pengabdian. Cinta kasih yang disertai dengan tanggung jawab menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kedamaian antara sesama manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan.
  Apabila dirumuskan secara sederhana, cinta ksih adalah perasaan kasih sayang, kemesraan, belas kasihan dan pengabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang bertanggung jawab. Tanggung jawab artinya akibat yang baik, positif, berguna, saling menguntungkan, menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kebahagiaan.

2. Cinta Menurut Ajaran Agama
   v  Cinta Menurut Agama Islam
Menurut Al-Qur'an cinta terbagi menjadi 8 jenis, yaitu:
  1. Cinta Mawaddah: yaitu cinta yang menggebu-gebu  dan membara. Orang yang memiliki cinta jenis ini inginnya selalu berdua dan tak ingin berpisah. Selalu ingin memuaskan dahaga cintanya bahkan hampir tidak bisa berfikir yang lain.
  2. Cinta Rahmah: yaitu cinta yang penuh akan kasih sayang, pengorbanan dan perlindungan. Orang yang memiliki cinta ini akan lebih memikirkan orang yang dicintainya daripada dirinya sendiri. Dipikirannya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meskipun ia harus menderita.
  3. Cinta Mail: yaitu cinta yang sementara sangat membara. Dan sangat menyedot perhatian tanpa memperhatikan hal-hal penting lainnya. Menurut Al-Qur'an disebut juga dalam konteks poligami. Karna ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda akan cenderung mengabaikan yang lama.
  4. Cinta Syaghaf: yaitu cinta alami yang sangat mendalam dan sangat memabukkan. Orang yang terkena cinta ini akan seperti orang gila, lupa diri bahkan tidak menyadari apa yang dilakukannya.
  5. Cinta Ra'fah: yaitu rasa kasih sayang yang melebihi norma kebenaran. Misalnya: karna rasa kasih sayang dan kasihan yang berlebihan melihat anaknya tidur terlelap seorang bapak tidak tega dan tidak jadi membangunkan anaknya untuk Sholat.
  6. Cinta Shobwah: yaitu cinta buta, cinta ini akan mendorong perilaku menyimpang dan tidak akan bisa mengelak.
  7. Cinta Syauq (Rindu): yaitu pengembaraan hati kepada kekasih dan kobaran cinta didalam hati sang pecinta.
  8. Cinta Kulfah: yaitu perasaan cinta yang disertai kesadaran akan hal-hal positif meski itu sulit.
v  Cinta Menurut Agama Kristen
Cinta adalah cinta kasih antara sesama dimana kita diajarkan untuk mencintai sesama tanpa membedakan agama, ras, latar belakang. Dan saling menghargai satu sama lain. Perintah. Allah yang terutama ialah: 
(Matius 12:29-31), "Cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu."  
"Cintailah sesama manusia seperti dirimu sendiri."
·         Korintus
13:4. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. 
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. 
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
·         Matius
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

v  Cinta Menurut Agama Hindu
Agama Hindu adalah agama Wahyu dan agama alami. Oleh karena itu, ia adalah agama Cinta Kasih. Agama yang amat luwes, agama yang berdasarkan pada Cinta Kasih, agama yang memiliki tujuan Cinta Kasih, dan juga agama yang dijalankan di dalam Cinta Kasih. Agama Hindu amat mementingkan pengembangan cinta kasih bukan hanya kepada sesama umat manusia tetapi kepada sesama makhluk hidup. Cinta kasih kepada sesama anggota keluarga, kepada sesama umat manusia tidak dipandang sebaga cinta kasih yang istimewa. Kesadaran bahwa seluruh dunia adalah sebuah keluarga besar sangat membantu orang untuk mengembangkan cinta kasih universal ini.
Dia adalah puncak cinta kasih di dunia ini, merupakan landasan penting untuk mengembangkan Prema Bhakti atau cinta kasih rohani kepada Tuhan yang Maha Esa. Cinta kasih universal dalam beberapa kitab suci disebutkan sebagai ciri, hiasan dan sifat-sifat agung orang-orang suci atau para Sadhu. Titiksavah karunikahsuhrdah sarva-dehinamajata-satravah santahsadhavah sadhu-bhusanah
Ciri-ciri atau hiasan dari seorang Sadhu atau orang suci adalah ia harus memiliki sifat-sifat senantiasa damai, memiliki toleransi besar, penuh karunia, bersifat berteman dengan seluruh makhluk hidup, tidak mempunyai musuh, hidupnya selalu didasarkan pada kitab suci dan segala kepribadiannya terpuji. Yajur Veda juga menegaskan hal yang sama:mitrasya ma caksusa sarvani bhutani samiksantamamitrasyaham caksusa sarvani bhutani samiksemitrasya caksusa samiksyamahe "Semoga semua makhluk hidup melihatku dengan pandangan sebagai teman, semoga aku melihat semua makhluk hidup dengan pandangan sebagai seorang teman, semoga kami melihat satu sama lainnya dengan pandangan sebagai seorang teman."

v  Cinta Menurut Agama Buddha
Nikaya Pali juga memuat satu kata cinta yang berbeda dengan cinta yang telah disebutkan di atas, cinta kasih yang dipancarkan secara universal (tak terbatas) kepada semua makhluk dan cinta kasih yang tanpa pamrih, yaitu: Metta.
Metta adalah bagian pertama dari empat kediaman luhur (Brahma Vihara) atau empat keadaan yang tidak terbatas (Apamanna). Bagian lainnya, yaitu Karuna (kasih sayang), Mudita (simpatik), dan Upekkha (keseimbangan batin).
Metta adalah rasa persaudaraan, persahabatan, pengorbanan, yang mendorong kemauan baik, memandang makhluk lain sama dengan dirinya sendiri. Metta juga suatu keinginan untuk membahagiakan makhluk lain dan menyingkirkan kebencian (dosa) serta keinginan jahat (byapada).
Metta berbeda dengan piya, pema, rati, kama, tanha, ruci dan sneha yang hanya menimbulkan nafsu dan kemelekatan. Pengembangan Metta dapat mengantarkan kita pada pencapaian kedamaian Nibbana (Mettacetto vimutti), seperti yang dinyatakan Sang Buddha dalam Dhammapada 368: 
"Apabila seorang bhikkhu hidup dalam cinta kasih dan memiliki keyakinan terhadap Ajaran Sang Buddha, maka ia akan sampai pada Keadaan Damai (Nibbana), berhentinya hal-hal yang berkondisi (sankhara)"

3. Kasih Sayang
  Pengertian Kasih SayangKasih sayang adalah suatu sikap saling menghormati dan mengasihi semua ciptaan Tuhan baik mahluk hidup maupun benda mati seperti menyayangi diri sendiri sendiri berlandaskan hati nurani yang luhur. Kita sebagai warga negara yang baik sudah sepatutnya untuk terus memupuk rasa kasih sayang terhadap orang lain tanpa membedakan saudara , suku, ras, golongan, warna kulit, kedudukan sosial, jenis kelamin, dan tua atau muda.
   Kasih Sayang dalam Keluarga
Keluarga adalah sebagai suatu kesatuan dan pergaulan yang paling awal. Sebagai satu kesatuan merupakan gabungan dari beberapa orang yang ditandai oleh hubungan genelogis dan psikologis yang saling ketergantungan dengan karakteristiknya yang berbeda. Jadi keluarga menggambarkan ikatan atau hubungan di antara anggota keluarganya yang diikat dengan berbagai sistem nilai. 
   Keluarga dalam bentuk apapun pada hakekatnya merupakan persekutuan hidup, dalam kedudukan inilah lahir berbagai fungsi keluarga. Keluarga merupakan bagian dari lingkungan kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang merupakan bagian dari masyarakat dan bangsa, oleh karena itu kekuatan suatu negara bersumber pada kekuatan keluarga, baik menyangkut kelancaran, keselamatan maupun kelangsungan hidup suatu keluarga. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memelihara iklim emosional keluarga adalah dengan adanya sikap kerjasama dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan anggota keluarganya. kebutuhan-kebutuhan itu meliputi:
1. Kebutuhan Akan Rasa Kasih Sayang
2. Kebutuhan Akan Rasa Aman
3. Kebutuhan Akan Harga Diri
4. Kebutuhan Akan Rasa Kebebasan
5. Kebutuhan Akan Rasa Sukses
6. Kebutuhan Akan Mengenal Lingkungan

4. Kemesraan
   Kemesraan berasal dari kata mesra yang berarti erat atau karib sehingga kemesraan berarti hal yang menggambarkan keadaan sangat erat atau karib. Kemesraan juga bersumber dari cinta kasih dan merupakan realisasi nyata. Kemesraan dapat diartikan sama dengan kekerabatan, keakraban yang dilandasi rasa cinta dan kasih.
Tingkatan kemesraan dapat dibedakan berdasarkan umur, yaitu:
- Kemesraan dalam Tingkat Remaja, terjadi dalam masa puber atau genetal pubertas yaitu dimana masa remaja memiliki kematangan organ kelamin yang menyebabkan dorongan seksualitasnya kuat.
- menyebabkan dorongan seksualitasnya kuat.
- Kemesraan dalam Rumah Tangga, terjadi antara pasangan suami istri dalam perkawinan.
Biasanya pada tahun tahun wal perkawinan, kemesraan masih sangat terasa, namun bisa
sudah agak lama biasanya semakin berkurang.
- Kemesraan Manusia Usia Lanjut, Kemsraan bagi manusia berbeda dengan pada usia
sebelumnya. Pada masa ini diwujudkan dengan jalan – jalan dan sebagainya. 

5. Pemujaan
   Pemujaan adalah dimana kita memuja atau mengagungkan sesuatu yang kita senangi.Pemujaan dapat dilakukan dalam berbagai aspek seperti memuja pada leluhur,memuja pada agama tertentu dan kepercayan yang ada.seperti Pemujaan pada leluhur adalah suatu kepercayaa bahwa para leluhur yang telah meninggal masih memiliki kemampuan untuk ikut mempengaruhi keberuntungan orang yang masih hidup. Dalam beberapa budaya Timur, dan tradisi penduduk asli Amerika, tujuan pemujaan leluhur adalah untuk menjamin kebaikan leluhur dan sifat baik pada orang hidup, dan kadang-kadang untuk meminta suatu tuntunan atau bantuan dari leluhur. Fungsi sosial dari pemujaan leluhur adalah untuk meningkatkan nilai-nilai kekeluargaan, seperti bakti pada orang tua, kesetiaan keluarga, serta keberlangsungan garis keturunan keluarga.

6. Belas Kasihan
   Dalam surat yohanes dijelaskan ada tiga macam cinta. Cinta Agape ialah cinta manusia kepada Tuhan. Cinta Philia ialah cinta kepada ibu bapak (orang tua) dan saudara, dan ketiga cinta Amor/ Eros ialah cinta antara pria dan wanita. Beda cinta eros dan amor ini ialah cinta eros karena kodrati sebagai laki – laki dan perempuan. Sedangkan cinta amor karena unsur – unsur yang sulit dinanar, misalnya gadis normal yang cantik mencintai dan mau dinikahi seorang pemuda yang kerdil.

Disamping itu masih ada cinta lagi yaitu cinta terhadap sesama. Cinta terhadap sesama merupakan perpaduan antara cinta Agape dan Cinta Philia.

Cinta sesama ini diberikan istilah belas kasihan untuk membedakan antara cinta kepada orang tua, pria – wanita, cinta kepada tuhan.

Dalam cinta sesama ini dipergunakan istilah belas kasihan, karena cinta disini bukan karena cakapnya, kayanya, cantiknya, pandainya, melainkan karena penderitaannya. Penderitaan ini mengandung arti yang luas. Mungkin tua, sakit – sakitan, yatim, yatim – piatu, penyakit yang dideritanya, dan sebagainya.

Jadi kata kasihan atau rahmah berarti bersimpati kepada nasib atau keadaan yang diderita orang lain. Kemudian apa bedanya rahmah dengan rahman? Kalau Rahman ada unsur member. Misalnya seseorang memusuhi kita, tetapi kita tidak membalasnya, malahan kita jadikan dia sebagai teman baik. Jadi, pengertian rahmah adalah kita menaruh perhatian (simpati) terhadap penderitaan orang lain, lalu kita menunjukkan jalan keluar kepadanya. Tetapi kalau kita menaruh rasa simpati kepada orang yang tidak dalam kesulitan, sehingga menyebabkan rusak (menjerumuskan), maka hal itu disebut memanjakan.

Dalam surah Al –Qolam ayat 4, maka manusia menaruh belas kasihan kepada orang lain, karena belas kasihan adalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi sangat dipujikan oleh Allah SWT.

Perbuatan atau sifat menaruh belas kasihan adalah orang yang berahlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan. Masalahnya sanggupkah ia mengggugah potensi belas kasihannya itu. Bila orang itu tergugah hatinya maka berarti orang berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.

Dalam Esai on Love ada pengertian bahwa cinta adalah rasa persatuan tanpa syarat. Itu berarti dalam rasa belas kasihan tidak terkandung unsur pamrih. Belas Kasihan yang kita tumpahkan benar – benar keluar dari lubuk hati yang ikhlas. Kalau kita memberikan uang pada pengemis agar mendapatkan pujian, itu berarti tidak ikhlas, berarti ada tujuan tertentu. Hal seperti itu banyak terjadi dalam masyarakat.

7. Cinta Erotis
   Cinta kasih kesaudaraan merupakan cinta kasih antara orang-orang yang sama-sama sebanding, sedangkan cinta kasih ibu merupakan cinta kasih terhadap orang-orang yang lemah tanpa daya. Walaupun terdapat perbedaan besar antara kedua jenis tersebut, Kedua-duanya mempunyai kesamaan bahwa pada hakekatnya cinta kasih tidak terbatas kepada seseorang saja. Berlawan dengan kedua jenis cinta kasih tersebut ialah cinta kasih erotis, yaitu kehausan akan penyatuan akan penyatuan yang sempurna, akan penyatuan dengan seseorang. Pada hakekatnya cinta kasih tersebut bersifat bersifat ekslusif, bukan universal, dan juga barangkali merupakan bentuk cinta kasih yang paling tidak dapat dipercaya
  
Contoh Kasus:
Ayah Jajakan Ginjal Seharga Ijazah Anaknya di Bundaran HI
  JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah teriknya sinar matahari yang menerpa Ibu Kota, seorang bapak dan putrinya memegang poster dan menunjukkannya kepada para pengendara mobil yang melintas di Bundaran Hotel Indonesia. Pada poster itu, sang ayah menawarkan ginjal untuk menebus ijazah putrinya itu yang bernama Sarah Meylanda Ayu.
   Dia adalah Sugiyanto. Dia terpaksa melakukan hal tersebut demi menebus ijazah Ayu di Pondok Pesantren Al Asriyah Nurul Iman. Untuk menebus ijazah anak keduanya itu, pria yang bekerja sebagai penjahit itu harus membayar Rp 17 juta. 
   Sampai saat ini, ijazah SMP dan SMA Ayu selama bersekolah di pesantren itu belum juga diambilnya. "Jangankan ginjal, jantung pun saya jual jika ada yang mau. Demi anak saya, saya rela mati," kata Sugiyanto di Bundaran HI, Rabu (26/6/2013).
   Sugiyanto mengatakan, tadinya ia diharuskan membayar sejumlah uang administrasi selama Ayu menempuh pendidikan di pondok pesantren yang terletak di Desa Waru Jaya, Parung, Bogor. Dia diharuskan membayar Rp 70 juta. Sebab, sekolah itu meminta Sugiyanto membayar Rp 20.000 per hari sejak Ayu masuk pesantren dari tahun 2005. 
   "Tapi, setelah saya ngomong dengan pihak sekolah, akhirnya sekolah memutuskan agar saya bayar uang ijazahnya saja. Yang Rp 70 juta dibebaskan," ujarnya. 
   Walau demikian, ia tetap belum mampu menebus ijazah yang diminta pesantren tersebut. Untuk menebus ijazah SMP anaknya, Sugiyanto harus membayar Rp 7 juta, sementara untuk ijazah SMA Rp 10 juta. Sugiyanto tidak mampu membayarkan ijazah anaknya karena ia tidak mempunyai penghasilan tetap. Warga Kebon 200, Kelurahan Kamal, Jakarta Barat, ini sehari-harinya menerima pesan jahit pakaian di dekat rumahnya. Penghasilannya hanya sekitar Rp 60.000 sampai Rp 80.000 per hari. Itu pun untuk memenuhi kebutuhan hidup kelima anaknya. 
   Sugiyanto mengaku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara mencari uang untuk menebus ijazah anaknya itu. Tiga bulan lalu, ia sudah membicarakan permasalahan ini ke Komnas HAM, Kementerian Agama, dan Kementerian Pendidikan. Akan tetapi, belum ada tanggapan dari ketiga lembaga itu. 
   "Rp 1 miliar pun sebenarnya saya tidak akan mau untuk menjual ginjal saya. Tapi, demi sekolah anak, saya rela menjualnya," ucapnya
   Ayu bersekolah di pondok pesantren itu sejak tahun 2005. Ketika itu, ia mengenyam bangku SMP. Awalnya, pihak pesantren tidak memungut biaya dari murid-muridnya, tetapi ketika pemilik pesantren itu meninggal pada tahun 2010, terjadi perubahan sistem yang mengharuskan para murid di pesantren tersebut untuk membayar biaya administrasi. 
   Ayu lulus SMA pada 2012. Ia sempat melanjutkan kuliah di pesantren tersebut beberapa bulan. Akan tetapi, karena ia tidak sanggup membayar uang administrasi, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti kuliah. 
   "Mau sekolah tidak bisa, kuliah tidak bisa. Ijazahnya saja tidak bisa diambil karena belum bayar," ujar gadis berjilbab itu lirih.
Opini:
Seorang Ayah yang berusaha memperjuangkan masa depan anaknya sampai rela melakukan apa saja untuk buah hatinya sekalipun harus dengan menjual organ yang sangat penting .
   Karna cinta kasihnya yang tulus memperjuangkan hak masa depan anaknya, namun bagaimana dengan sikap para pemimpin yang seharusnya menjamin pendidikan warga negaranya . hanya karna ekonomi yang tak mampu untu menebus ijazah sampai ijazahpun ditahan.  Mudahan mudahan tidak ada lagi kasus seperti ini nantinya . Terapkan cinta kasih dalam kehidupan .

REFERENSI:
http://ridwansyaidy.blog.com/2010/04/13/makna-cinta-kasih/
http://id.shvoong.com/social-sciences/anthropology/2189133-pengertian-kasih-sayang-cinta-kemesraan/#ixzz1cozwyQbo
http://ubayotaku.blogspot.com/2012/04/pengertian-cinta-kasih.html
http://ubayotaku.blogspot.com/2012/04/pengertian-kasih-sayang.html
http://ubayotaku.blogspot.com/2012/04/pemujaan-kemesraan.html
http://ubayotaku.blogspot.com/2012/04/pengertian-belas-kasihan.html
http://meiliaupstar.blogspot.com/2011/11/pengertian-cinta-kasih-kasih-sayang.html
http://megapolitan.kompas.com/read/2013/06/26/1300222/Ayah.Jajakan.Ginjal.Seharga.Ijazah.Anaknya.di.Bundaran.HI

Jumat, 10 Januari 2014

makalah Pemahaman Sosial Masyarakat Tercermin Pada Prilaku Mahasiswa di Kampus

Mata Kuliah  :  Ilmu Sosial Dasar
Dosen : Muhammad Burhan Amin

Topik Makalah/Tulisan

PEMAHAMAN SOSIAL MASYARAKAT
TERCERMIN PADA PERILAKU MAHASISWA DI KAMPUS

 



Kelas  :  1-KA28

Tanggal Penyerahan Makalah : 11 Januari 2014
Tanggal Upload Makalah  :  12 Januari 2014


 


P E R N Y A T A A N

Dengan ini saya menyatakan bahwa seluruh pekerjaan dalam penyusunan makalah ini saya buat sendiri tanpa meniru atau mengutip dari tim / pihak lain.

Apabila terbukti tidak benar, saya siap menerima konsekuensi untuk mendapat nilai 1/100 untuk mata kuliah ini.




P e n y u s u n



N P M
Nama Lengkap
Tanda Tangan
11113245
ARDIANSYAH








Program Sarjana Sistem Informasi


UNIVERSITAS GUNADARMA


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasi menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya, yan berjudul “PEMAHAMAN SOSIAL MASYARAKAT TERCERMIN PADA PRILAKU MAHASISWA DI KAMPUS”.

Makalah ini berisikan hal-hal yang berkaitan tentang pemahaman sosial masyarakat yang mencerminkan prilaku mahasiswa di kampus, yang lebih khususnya membahas kelemahan,kekuatan, tantangan / hambatan serta peluang terjadinya  masalah sosial tersebut.

Saya menyadari bahwa makaklah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karna itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan kesempurnaan makalah ini

Akhir kata saya ucapkan  terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita, Amin


DAFTAR ISI
COVER JUDUL .............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR...................................................................................................... ii
DATAR ISI........................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG................................................................................................. 1
1.2. TUJUAN...................................................................................................................... 2
1.3. SASARAN................................................................................................................... 2
BAB II PERMASALAHAN
2.1. KEKUATAN............................................................................................................... 3
2.2. KELEMAHAN............................................................................................................ 3
2.3. PELUANG................................................................................................................... 4
2.4. TANTANGAN............................................................................................................ 4
BAB III PENUTUP
3.1. KESIMPULAN........................................................................................................... 5
3.2. REKOMENDASI........................................................................................................ 5

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang


Menegakkan sikap disiplin dalam diri remaja khususnya mahasiswa pada pelaksanaannya ternyata bukanlah hal yang mudah. Aturan demi aturan dikeluarkan, akan tetapi sikap disiplin diantara para mahasiswa selalu gagal ditegakkan.  Ketidak disiplinan mahasiswa merupakan gejala yang mengkhawatirkan banyak pihak, terutama bagi kalangan dosen dan masyarakat.
Salah satu contoh pelanggaran disiplin yang dilakukan mahasiswa di dalam perkuliahan adalah tidur disaat dosen sedang memberikan materi. Tidak mengumpulkan tugas tepat pada waktunya. Sebagai calon pendidik, mahasiswa tentunya tidak boleh melakukan perilaku negative tersebut. Sebagai kader pemimpin bangsa yang diharapkan oleh Bangsa serta Negara, mahasiswa kelak akan menjadi contoh atau panutan di dalam lingkungan sekitar dimanapun mereka berada.
Pada pelaksanaannya tidak sedikit mahasiswa yang masih suka mengobrol di kelas atau tidur disaat dosen sedang memberikan materi. Perilaku negative ini tentu harus dihindari atau bahkan  dihilangkan dari setiap mahasiswa.
Pada makalah ini akan diuraikan beberapa perilaku-perilaku yang positif yang perlu dimiliki oleh mahasiswa dan cara meningkatkannya. Selain itu juga akan dibahas beberapa perilaku negative yang harus dihindari oleh mahasiswa serta cara meminimalisasinya agar  mahasiswa  dapat disiplin, dewasa, menjaga ketertiban dimanapun mereka berada dan tidak berprilaku negative disaat perkuliahan berlangsung maupun ketika sedang berada di sekitar masyarakat luas.
1.2    Tujuan
Adapun tujuan dari penulisa makalah ini adalah sebagai berikut.
  1. Untuk mengetahui setiap karakter individu mahasiswa di kampus.
  2. Untuk mengetahui tentang pemahaman sosial masyarakat pada prilaku mahasiswa di kampus.
  3. Untuk mengetahui dampak-dampak yang terjadi sebagai akibat pencerminan prilaku mahasiswa di kampus.

1.3    Sasaran
Sasaran yang di tunjukan untuk poko materi yang dibahas dalam materi ini yaitu semua masyarakat atau orang-orang untuk pemahaman sosial pada prilaku mahasiswa dan para mahasiswa.


BAB II
PERMASALAHAN

2.1  Strength (Kekuatan)
  1.  Ilmu: Mahasiswa mempunyai kesempatan untuk mempelajari dan menyebarkan ilmu yang didapatkan untuk masyarakat luas.
  2. Memberantas kebodohan: Mahasiswa turut serta memberantas kebodohan di masyarakat.
  3. Tuntunan moral: Mahasiswa sudah menjadi tuntunan moral intelektual di masyarakat, karena mereka sudah diajarkan untu berintelektual dari awal.
  4. Pembangunan: Mahasiswa turut serta dalam proses pembangunan dan pergerakan untuk masyarakat luas.


2.2  Weakness (Kelemahan)
  1. Malas: Mahasiswa banyak yang terjebak dalam kebiasaan buruk yang menghambat perkembangan mereka yaitu rasa malas pada mahasiswa.
  2. Copy paste: Budaya copy paste adalah salah satu kebiasaan yang mendarah daging yang akan teerbawa di saat mereka sudah terjun di masyarakat luas.
  3. Tidak percaya diri: Jatuhnya rasa kepercayaan pada potensi dan kemampuan mahasiswa adalah akibat dari rasa malas mereka.
  4. Kurangnya kritisi: Mahasiswa yang dahulu terkenal dengan kritisinya sekarang sudah mulai pudar karena budaya copy paste yang membuat mereka hanya ikut-ikutan saja.



2.3  Oppurtinity (Peluang)
  1. Teknologi: Perkembangan teknologi memberikan kesempatan mahasiswa menciptakan dan menggunakan teknologi untuk peningkatan taraf hidup di masyarakat.
  2. Terdidik dan terpelajar: Mahasiswa merupakan sumberdaya manusia yang terdidik dan terpelajar.
  3. Aspirasi masyarakat: Mahasiswa mampu menyuarakan aspirasi masyarakat sehingga terciptalah perubahan di masyarakat dan bangsa.
  4. Generasi penerus: Mahasiwa sebagai generasi penerus bangsa yang kreatif, produktif, dan berprestasi dalam cerminan bangsa dan dunia.



2.4  Threats (Hambatan)
  1. Kurangnya fasilitas: Masih belum meratanya pendidikan di dunia perkuliahan diantaranya kurangnya fasilitas sarana dan prasarana.
  2. Keterbaasan ekonomi: karena keterbatasan ekonomi masyarakat banyak mahasiswa yang putus kuliah.
  3. Kurangnya sumber daya manusia yang berpotensi: karena kemudahan duniawi membuat orang berpuas diri yang mengakibatkan kurangnya sumber daya manusia yang berpotensi untuk maju.
  4. Kurang percaya diri: kurangnya percaya diri dengan potensi dan kemampuan berfikir yang menghambat pada mahasiswa untuk maju.



BAB III
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
3.1    Kesimpulan
  1. Memberantas kebodohan: Mahasiswa turut serta memberantas kebodohan di masyarakat.
  2. Kurangnya kritisi: Mahasiswa yang dahulu terkenal dengan kritisinya sekarang sudah mulai pudar         karena budaya copy paste yang membuat mereka hanya ikut-ikutan saja.
  3. Teknologi: Perkembangan teknologi memberikan kesempatan mahasiswa menciptakan dan                 menggunakan teknologi untuk peningkatan taraf hidup di masyarakat.
  4. Kurangnya fasilitas: Masih belum meratanya pendidikan di dunia perkuliahan diantaranya kurangnya     fasilitas sarana dan prasarana.


3.2    Rekomendasi
  1. Makin tingginya angka kebodohan harus membuat para mahasiswa prihatin dan menggetarkan mereka untuk membantu memberantas kebodohan di masyarakat.
  2. Menurunya kritisi para mahasiswa harus ditingkatkan dengan menghilangkan budaya copy paste dan memunculkan kreatifitas dari diri sendiri.
  3. Teknologi yang terus berkembang harus digunakan para mahasiswa untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
  4. Pemerintah harus melakukan pemerataan didunia pendidikan khususnya dunia perkuliahan karena pemahaman sosial masyarakat tercermin dari mahasiswa.



REFERENSI
1.      http://www.pustakaskripsi.com/tema-skripsi/perilaku-mahasiswa
2.      http://suarakampus.com/?mod=opini&se=detil&id=46
3.      http://books.google.co.id/books?id=Xz8bAAAAIAAJ&q=Mahasiswa+turut+serta+memberantas+kebodohan+di+masyarakat.&dq=Mahasiswa+turut+serta+memberantas+kebodohan+di+masyarakat.&hl=id&sa=X&ei=CcvQUpupEPGXiQedmoCoCQ&redir_esc=y
4.      http://books.google.co.id/books?id=f11HYAAACAAJ&dq=perilaku+mahasiswa&hl=id&sa=X&ei=-8vQUtOoFqS5iQf0iYHgCQ&redir_esc=y



bagan Prasangka, Deskriminasi dan Etnosentrisme


bagan Agama dan Masyarakat



Senin, 06 Januari 2014

Makalah Masalah Sosial Pengemis Musiman

Mata Kuliah  :  Ilmu Sosial Dasar
Dosen : Muhammad Burhan Amin

Topik Makalah/Tulisan

Masalah Sosial Pengemis Musiman



Kelas  :  1-KA28

Tanggal Penyerahan Makalah : 25 November 2013
Tanggal Upload Makalah  :  26 November 2013

 P E R N Y A T A A N

Dengan ini saya menyatakan bahwa seluruh pekerjaan dalam penyusunan makalah ini saya buat sendiri tanpa meniru atau mengutip dari tim / pihak lain.

Apabila terbukti tidak benar, saya siap menerima konsekuensi untuk mendapat nilai 1/100 untuk mata kuliah ini.




P e n y u s u n



N P M
Nama Lengkap
Tanda Tangan
11113245
ARDIANSYAH




Program Sarjana Sistem Informasi


UNIVERSITAS GUNADARMA



KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasi menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya, yan berjudul “MASALAH SOSIAL PENGEMIS MUSIMAN”.

Makalah ini berisikan hal-hal yang berkaitan tentang masalah sosial pengemis musiman yang terjadi di masyarakat, yang lebih khususnya membahas kelemahan,kekuatan, tantangan / hambatan serta peluang terjadinya peran masalah sosial tersebut.

Saya menyadari bahwa makaklah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karna itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan kesempurnaan makalah ini

Akhir kata saya ucapkan  terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita, Amin

DAFTAR ISI
COVER JUDUL .............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR...................................................................................................... ii
DATAR ISI........................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG................................................................................................. 1
1.2. TUJUAN...................................................................................................................... 1
1.3. SASARAN................................................................................................................... 1
BAB II PERMASALAHAN
2.1. KEKUATAN............................................................................................................... 2
2.2. KELEMAHAN............................................................................................................ 2
2.3. PELUANG................................................................................................................... 2
2.4. TANTANGAN............................................................................................................ 3
BAB III PENUTUP
3.1. KESIMPULAN........................................................................................................... 4

3.2. REKOMENDASI........................................................................................................ 5

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pengemis seringkali dianggap sebagai “sampah masyarakat”, karena baik pemerintah maupun masyarakat merasa terganggu oleh kehadiran mereka yang lalu lalang di perempatan lalu lintas, di pinggir jalan, di sekitar gedung perkantoran, pertokoan, dan banyak tempat-tempat lain yang seringkali di jadikan tempat beroperasi. Belakangan ini pengemis, pengamen, dan gelandangan semakin banyak berkeliaran di jalanan, terutama di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, termasuk kota Malang. Di kota Malang sendiri misalnya, mereka beroperasi di perempatan atau pertigaan jalan, di pinggir jalan dan di sekitar terminal. Pemuda, remaja, pasangan suami-istri, anak-anak, dan perempuan renta semakin menyesaki ruang publik kita. Itulah yang menyebabkan sebagian besar dari kita merasa sangat terganggu dengan keberadaan mereka yang hampir ada dimana-mana dan membuat kita merasa tidak nyaman. Mungkin hal-hal tersebut yang akhirnya membuat pemerintah dan masyarakat menganggap mereka sebagai “sampah masyarakat”. Sering kita melihat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) merazia Pengemis dan Gelandangan untuk dibawa ke Dinas Sosial dengan alasan dan dalih untuk ‘Di Bina dan Dididik’ secara baik sehingga mereka tidak kembali ke jalan lagi. Pada saat kita pergi kita sering melihat banyak pengemis, pengamen, dan lain-lain.
Hal Itu merupakan salah satu akibat dari kemiskinan. Kemiskinan memang saat ini masih belum ada solusinya, tetapi tampaknya Pemerintah masih belum maksimal dalam menangani masalah kemiskinan. Dan itu bukan hanya salah Pemerintah saja tetapi kita juga harus dapat mengatasii kemiskinan tersebut, karena untuk mengubah kemiskinan harus dibutuhkan mental yang bagus. Kemiskinan memang dapat mengganggu kesejahteraan masyarakat, dan itu sangat tampak dari semakin banyaknya pengemis dan pengamen jalanan dimana-mana yang kadang mengganggu kenyamanan kita. Mungkin kemiskinan terjadi karena tidak dapat membiayai kehidupan secara langsung. Dan itulah yang terjadi sekarang ini, bahwa kemiskinan sekarang ada dimana-mana dan menyebabkan semakin bertambahnya ‘sampah masyarakat’.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisa makalah ini adalah sebagai berikut.
  1. Untuk mengetahui setiap karakter individu pengemis.
  2. Untuk mengetahui apa saja faktor yang menyebabkan mengemis.
  3. Untuk mengetahui dampak-dampak yang terjadi sebagai akibat pengemis jalanan.
1.3 Sasaran
Sasaran yang di tunjukan untuk poko materi yang dibahas dalam materi ini yaitu semua masyarakat atau orang-orang untuk mulai peduli dengan lingkungan sosialnya..

BAB II
PERMASALAHAN

2.1  Strength (Kekuatan)
a.       Krisis ekonomi: Gejolak perekonomian Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh pihak luar membuat krisis ekonomi dan nometer yang berkepanjangan beberapa tahun yang lalu menyebabkan banyaknya perusahaan yang melakukan pemutusan kerja, menjadikan alasan untuk meminta-minta di jalanan dan mengemis.
b.      Pemenuhan kebutuhan: Semakin besar usaha yang mereka lakukan mencari uang, maka semakin besar pula uang yang mereka peroleh untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
c.       Keterbatasan pendidikan dan skill: Banyak dari mereka yang tidak memiliki skill untuk bersaing dalam mendapatkan penghidupan di perkotaan.
d.      Munculnya jiwa sosial: Rasa iba dan kasihan ketika melihat para pengemis jalanan menghabiskan waktu mereka untuk mencari nafkah membuat jiwasosial seseorang akan muncul untukmembantu mengurangi beban hidup pengemis jalanan.


2.2 Weakness (Kelemahan)
a.       Meningkatkan jumlah kriminalitas: Demangan semakin sulitnya mendapatkan uang mereka pun tak segan-segam memaksa meminta uang.
b.      Meningkatnya ketergantungan: Dengan kemudahan mereka mendapatkan uang menyebabkan timbulnya rasa ketergantungan mereka.
c.       Mudah datangnya penyakit: Kebiasaan mereka yang hidup di jalan adalah kebiasaan yang sangat tidak baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.
d.      Tidak memiliki pendidikan yang layak: Semakin lama mereka melakukan kegiatan ini mereka semakin nyaman dan tidak ingin untuk mendapatkan pendidikan yang semestinya didapatkan.

2.3 Oppurtinity (Peluang)
a.       Mudahya mendapatka uang: Dengan mereka hanya bermodalkan dengkul atau hanya nekad dijalan pun mereka bisa mendapatkan belaskasihan dari orang.
b.      Populasi masyarakat: Populasi masyarakat yang relatif besar merupakan modal dasar SDM bagi pembangunan.
c.       Pendidikan yang terus dibangun oleh pemerintah akan meningkatkan kualitas penduduk Indonesia.
d.      Penegakan supermasi hukum: penegakan supermasi hukum yang terus ditingkatkan pemerintah dapat membangun kebersamaan di tengah-tengah masyarakat.
2.4 Threats (Hambatan)
a.       Kejar-kejaran dengan petugas: Dengan diberlakukannya peraturan oleh pemerintah untuk ketertiban maka ditugaskan para satpol pp untuk menanngkap dan merazia para pengemis.
b.      Pungutan liar: Dengan mereka bekerja dijalan mereka akan menerima konsekuensi, mereka yang kuat mereka berkuasa.
c.       Malu: Tidak semua pengemis merasa tidak malu, mereka sebenarnya malu melakukan kegiatan meminta-minta dijalan.
d.      Buruknya pandangan masyarakat: Pandangan masyarakat terhadap penampilan dan prilaku pengemis jalanan yang tidak sopan membuat sebagian masyarakat menjauhi mereka.

BAB III
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
3.1 Kesimpulan
a.       Keterbatasan pendidikan dan skill: Banyak dari mereka yang tidak memiliki skill untuk bersaing dalam mendapatkan penghidupan di perkotaan.
b.      Meningkatnya ketergantungan: Dengan kemudahan mereka mendapatkan uang menyebabkan timbulnya rasa ketergantungan mereka.
c.       Pendidikan yang terus dibangun oleh pemerintah akan meningkatkan kualitas penduduk Indonesia.
d.      Kejar-kejaran dengan petugas: Dengan diberlakukannya peraturan oleh pemerintah untuk ketertiban maka ditugaskan para satpol pp untuk menanngkap dan merazia para pengemis.

3.2 Rekomdendasi
a.       Keterbatasan pendidikan dan skill bukanlah halangan dari mereka untuk meminta-minta dan mereka haruh mengasah skill mereka sendiri untuk bersaing di tengah masyarakat untuk bersaing dalam mendapatkan penghidupan di pekotaan.
b.      Meningkatkan ketergantungan para pengemis harus ditinggalkan dengan cara, jangan memberikan uang dengan mudah kepada mereka yang akan menyebabkan timbulnya rasa ketergantungan mereka kepada orang untuk memberi.
c.       Memudahkan mendapatkan uang bukan berarti dengan mereka hanya bermodalkan dengkul atau hanya nekad dijalan saja mereka bisa mendapatkan belaskasihandari orang yang berupa uang dan lain-lain tapi bengan uasaha dan kerja keras mereka untuk mendapatkan uang.
d.      Kejar-kejaran dengan etugas bukanlah solusi yang baik untuk membersihkan para pengemis yang melanggar peraturan, seharusnya mereka diberikan sosialisasi untuk mendapatkan pelatihan skill, guna mendapatkan pekerjaan yang layak.

REFERENSI
1.      http://sadewasite7.wordpress.com/2011/10/14/268/
2.      http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/10/urbanisasi-pasca-lebaran/
3.      http://id.wikipedia.org/wiki/Urbanisasi
4.      http://anca45-kumpulan-makalah.blogspot.com/2011/11/urbanisasi-dampak-dan-strategi.html